Ketika Kisah Buruk Lebih Mudah Dipasarkan

Daya Tarik Luka di Era Digital

Derasnya arus informasi di era digital, mampu menyajikan beragam bentuk ide dan konten yang terkadang tanpa permisi hadir silih berganti, walaupun kita tidak ingin tahu apapun. Namun, ada satu pola menarik muncul dengan cukup konsisten, yaitu kisah-kisah yang mengandung unsur tragedi, konflik, atau penderitaan cenderung lebih cepat menyebar, lebih banyak diklik, dan lebih sering dibicarakan, singkatnya punya daya jual yang lebih kuat. Entah itu cerita tentang orang tua yang dilaporkan ke pihak berwajib oleh anaknya sendiri, anak korban kekerasan, atau selebritas yang terpuruk karena skandal — semuanya tampak punya magnet tersendiri.

Derasnya arus informasi di era digital, mampu menyajikan beragam bentuk ide dan konten yang terkadang tanpa permisi hadir silih berganti, walaupun kita tidak ingin tahu apapun. Namun, ada satu pola menarik muncul dengan cukup konsisten, yaitu kisah-kisah yang mengandung unsur tragedi, konflik, atau penderitaan cenderung lebih cepat menyebar, lebih banyak diklik, dan lebih sering dibicarakan, singkatnya punya daya jual yang lebih kuat. Entah itu cerita tentang orang tua yang dilaporkan ke pihak berwajib oleh anaknya sendiri, anak korban kekerasan, atau selebritas yang terpuruk karena skandal — semuanya tampak punya magnet tersendiri.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa kisah buruk justru lebih mudah dipasarkan? Apakah ini cerminan dari sifat alami manusia? Atau sekadar efek dari algoritma digital yang haus emosi ekstrem? Di balik popularitas kisah-kisah kelam, ada sisi positif sekaligus negatif yang layak dipertimbangkan.

Daya Tarik Emosi Negatif

Secara psikologis, manusia cenderung memperhatikan dan memberikan bobot lebih besar pada informasi atau pengalaman negatif dibandingkan dengan informasi atau pengalaman positif. Hal ini karena, dalam kebanyakan situasi, peristiwa negatif lebih menonjol, kuat, dominan dalam kombinasi, dan secara umum lebih efektif daripada peristiwa positif. (Rozin & Royzman, 2001: 297).

Rasa takut, marah, sedih, atau iba merangsang bagian otak yang berhubungan dengan kewaspadaan dan empati. Ketika seseorang membaca judul seperti “Kasus Dugaan Korupsi Pertamina menjadi Skandal Terbesar di Indonesia” atau “Pelajar SD harus Berjalan Puluhan Kilometer untuk Sekolah,” secara naluriah perhatian itu langsung tertuju.

Kisah-kisah yang menyentuh sisi gelap kehidupan memicu rasa ingin tahu. Pembaca ingin tahu apa yang terjadi, bagaimana tokohnya menghadapi cobaan, dan apa akibat dari peristiwa tersebut. Bahkan tanpa disadari, mereka bisa terlibat emosional, merasa marah, kasihan, atau ikut terluka.

Cerita yang mengguncang itulah yang akhirnya lebih mudah mencuat ke permukaan. Karena, algoritma media sosial memprioritaskan konten yang mengundang interaksi tinggi — dan emosi negatif hampir selalu jadi bahan bakarnya.

Refleksi, Kepedulian, dan Kesadaran Sosial

Meski terkesan negatif, kisah buruk punya potensi untuk membawa dampak positif. Ketika disajikan dengan sudut pandang yang bijak dan kontekstual, kisah penuh luka bisa menjadi ruang refleksi. Ia membuka mata terhadap realitas yang sering terabaikan.

Cerita tentang kekerasan rumah tangga, misalnya, bisa memunculkan kesadaran publik tentang urgensi perlindungan hukum dan dukungan psikologis. Kisah penderitaan juga bisa memperkuat rasa empati antar manusia. Banyak audiens yang merasa “tidak sendirian” ketika membaca atau melihat pengalaman orang lain yang senasib. Mereka terhubung, menguatkan, dan dalam beberapa kasus, bangkit bersama. Dalam konteks ini, kisah buruk bukan sekadar bahan konsumsi, melainkan katalis penyembuhan.

Media sosial pun menjadi ruang di mana cerita-cerita kelam berubah menjadi ajakan untuk peduli. Kampanye sosial, donasi, atau gerakan moral seringkali bermula dari satu kisah menyedihkan yang menyentuh banyak hati.

Eksploitasi, Sensasionalisme, dan Kelelahan Emosional

Namun, tak dapat dimungkiri bahwa dalam praktiknya, kisah buruk seringkali disajikan dengan cara yang tidak sehat. Banyak media dan kreator konten yang sengaja membesar-besarkan narasi penderitaan demi menarik perhatian. Cuplikan cerita dipotong dan dipelintir agar menggugah reaksi emosional. Ditambah lagi bumbu komentar netizen membuatnya semakin dramatis. Akibatnya, kisah buruk tidak lagi memberi pemahaman — melainkan hanya memancing rasa penasaran dan reaksi instan. Sehingga, bisa membentuk opini yang keliru atau memperkuat stigma.

Lebih jauh lagi, masyarakat bisa mengalami kelelahan emosional. Paparan berulang terhadap konten negatif bisa membuat empati menumpul. Alih-alih merasa peduli, kini hanya membuat kita mengernyit dan menggulir layar lebih cepat. Krisis empati ini menjadi ancaman baru dalam budaya digital yang didominasi drama dan konflik.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Sebagian menyalahkan algoritma. Sebagian menyalahkan media. Tapi tanggung jawab sebenarnya bersifat kolektif.

Memang, ketika kita berbicara tentang konten digital, tentu tidak lepas dari turut andilnya algoritma dalam menyaring dan menyebarkan cerita yang dinilai “menjual”. Konten yang memicu komentar, kemarahan, atau perdebatan akan diprioritaskan tampil. Jadinya, ekosistem seperti ini menjadikan kisah buruk mendapat ruang lebih luas dibanding cerita yang datar atau membahagiakan.

Namun, tanggung jawab tak hanya di pundak algoritma atau media. Konsumen konten juga punya peran besar. Melalui kesadaran dan literasi digital yang baik, masyarakat bisa memilih untuk tidak terjebak dalam pusaran sensasi. Begitu pula para pembuat konten — jika mereka memilih integritas daripada klik, maka cerita apa pun, bahkan yang kelam, tetap bisa disampaikan dengan cara yang luar biasa.


Kisah buruk memang lebih mudah dipasarkan — itu kenyataan yang tidak bisa dihindari. Namun di balik daya tariknya, tersembunyi potensi besar untuk membangun kesadaran, menguatkan sesama, dan memicu perubahan. Walaupun, ada pula jebakan eksploitasi, kelelahan emosional, dan hilangnya empati jika konten disajikan tanpa pertimbangan etis.

Hal terpentingnya bukan seberapa buruk sebuah cerita, tapi bagaimana cara kita menyampaikannya — Apakah kita sedang menyuarakan, atau justru menjual luka? Jika kisah kelam bisa menjadi jendela bagi pembaca melihat realitas, merenung, dan menjadi lebih peduli, maka ia layak mendapat tempat. Namun bila hanya menjadi alat pemancing popularitas semata, maka yang kita hasilkan hanyalah luka baru, bukan pelajaran.


Penulis juga mempublikasikan artikel ini di medium.com